JAKARTA, Keselamatan jurnalis saat menjalankan tugas peliputan di wilayah berisiko tinggi menjadi perhatian menyusul hilangnya lima jurnalis dan tiga anak buah kapal atau ABK pemandu kapal saat melakukan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Tenaga Ahli KPI Pusat, Prof. Fal. Harmonis, PhD, menekankan pentingnya jurnalis memahami kondisi lapangan sebelum melakukan peliputan, terutama ketika menggunakan transportasi laut.
Menurutnya, kendaraan atau kapal yang digunakan harus benar-benar layak dan sesuai dengan kondisi medan. Jurnalis juga tidak boleh hanya mengandalkan kepercayaan terhadap pihak lain tanpa memastikan aspek keselamatan secara langsung.
“Jangan dipaksakan kalau tidak layak. Kita harus melihat sendiri apakah aman, termasuk memastikan alat-alat keselamatan seperti pelampung tersedia di kapal,” ujarnya saat menyampaikan materi di Gedung Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jl.KH.Ahmad Dahlan,Cirendeu, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (Fisip)
Ciputat Timur,Kota Tangerang Selatan,Banten, Sabtu (12/9/2026).
Selain kesiapan transportasi, jurnalis juga dituntut memahami situasi lapangan, menjaga jarak aman, serta menggunakan pemandu yang profesional dan memahami karakteristik wilayah.
Prof. Harmonis juga mengingatkan pentingnya komunikasi intensif dengan pihak berwenang. Setiap peliputan dengan risiko tinggi harus memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas sebagai turunan dari kode etik dan prinsip keselamatan jurnalistik.“Kalau risikonya tinggi, SOP harus jelas. Intinya, kita harus menguasai lapangan,” tegasnya.
Ia menilai keselamatan jurnalis tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi, tetapi juga berhubungan dengan kualitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Karena itu, sebelum turun ke lapangan, jurnalis perlu memastikan informasi yang diperoleh valid, memahami kondisi medan, serta mengutamakan keselamatan tanpa mengabaikan tugas jurnalistik.
NK