JAKARTA, Istilah pubertas selama ini identik dengan masa remaja, fase pencarian jati diri yang penuh gejolak emosi. Namun seiring perubahan zaman, muncul fenomena baru yang kini ramai diperbincangkan di media sosial: puber kedua, yang justru banyak dialami kalangan emak-emak, Sabtu (31/1/2026).
Media sosial menjadi ruang paling nyata untuk melihat perubahan ini. Emak-emak yang dahulu dikenal sederhana, kalem, dan sibuk mengurus rumah tangga, kini tampil jauh lebih percaya diri. Mereka aktif membuat konten, joget live berjam-jam, hingga berinteraksi lewat caption dan kolom komentar yang kerap lebih berani dibandingkan anak remaja.
Fenomena ini tak muncul tanpa sebab. Bagi sebagian emak-emak, media sosial menjadi sarana hiburan, pelepas penat, sekaligus ruang aktualisasi diri setelah bertahun-tahun fokus pada keluarga. Bahkan, tak sedikit yang menjadikan aktivitas tersebut sebagai peluang ekonomi melalui live streaming dan endorsement.
Namun, puber kedua ini juga menuai beragam reaksi. Sebagian warganet menilai perilaku tersebut berlebihan dan kurang pantas, sementara yang lain justru melihatnya sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan hak untuk menikmati hidup tanpa batasan usia.
Pengamat sosial menilai fenomena ini sebagai dampak langsung dari kemajuan teknologi dan perubahan pola sosial. Media sosial telah menghapus sekat usia, membuka ruang yang sama bagi siapa pun untuk tampil, bersuara, dan diakui.
Terlepas dari pro dan kontra, fenomena puber kedua pada emak-emak menjadi potret perubahan zaman. Media sosial bukan lagi milik anak muda semata. Kini, para ibu pun turut meramaikan jagat digital dengan gaya, cerita, dan ekspresi mereka sendiri.
Salah satu pelaku konten Media sosial sebut saja Siti (42 th), mengaku aktivitas line streaming yang ia lakukan justru menjadi hiburan sekaligus tambahan penghasilan, "Awalnya cuma iseng lama-lama jadi senang karena banyak teman dan bisa bantu ekonomi keluarga," ujarnya.
(Ahm)